• ib-banner

    BPRS Amanah Rabbaniah terdaftar dan di awasi oleh Otoritas Jasa Keuangan dan dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan

    TABEL DISTRIBUSI BAGI HASIL BPRS AMANAH RABBANIAH

    Periode Juli 2019  |  per 1.000.000
    Jenis Produk Rupiah % Nisbah
    Tabungan IB Rencana 6362 29 %
    Deposito 1 bulan 5486 25 %
    Deposito 3 bulan 6362 29 %
    Deposito 6 bulan 7240 33 %
    Deposito 12 bulan 7900 36 %
    “Spirituality is the soul of advanced and integrated marketing”

    Demikian Dr. Muhamad Syafi’ie Antonio menyimpulkan refleksi buku Syariah Marketing karya Hermawan Kertajaya dan Muhamad Syakir Sula.

    Syafi’ie mengutip Stephen R. Covey dalam magnum opus-nya, “the 7 Habit of highly effective people”, yang diikuti oleh buku “the 8th habit”, menyimpulkan bahwa kesuksesan itu tergantung kepada inner voicedantransendental values.

    Kata Stephen R. Covey, “find your inner voice and inspire other to find theres”. “Temukan suara hatimu dan inspirasi orang lain untuk menemukan suara hati mereka”. Hal itu karena orang yang sukses adalah orang yang mampu mengikuti kata hati dan mewujudkannya, setelah itu mampu menginspirasi orang lain agar berbuat yang lebih baik.konteksnya adalah memberikan dan menyebarkan nilai-nilai kebaikan sehingga dapat menjadi inspirasi yang mampu menggerakkan orang lain.

    Adiwarman karim menyebut bahwa kesuksesan paripurna itu harus mencontoh tokoh tauladan yang luar biasa, yaitu Rasululloh saw.

    Yusuf Mansyur memakai pendekatan sedekah untuk memaksimalkan rizki!,semakin banyak bersedekah maka akan semakin banyak pula balasan rizkinya. referensinya dari sabda Nabi saw.

    1. Zainuddin MZ menyatakan bila kita menanam padi, maka rumput dan eceng gondok akan datang sendiri, tapi bila kita menanam rumput, jangan berharap kebagian padi!.Demikian pula dalam bermuamalah. Bila kita berbisnis dengan nilai-nilai ukhrowi maka keuntungan ukhrowi dan duniawi akan teraih, tapi bila kita berbisnis dengan hanya berorientasi dunia maka jangan harap dapat pahala ukhrowi.

    Syafiie Antonio menekankan bahwa system interest based(sistem ribawi) telah meluluhlantakkan industry perbankan nasional. Diakui atau tidak, perjalanannya ibarat menyimpan bom waktu!.

    Kata Hermawan Kertajaya, era pemasaran telah bergeser lagi kearah spiritual marketing. Disini, praktek pemasaran dikembalikan lagi kepada fungsinya yang hakiki, yang dijalankan dengan moralitas yang kental, penuh empati, jujur , rasa cinta dan aspek kepeduliannya (simpati untuk  membantu) menjadi lebih dominan.

    Muhamad syakir sula menyimpulkan pemahaman diatas dengan kata-kata, “ dalam bahasa syariah, spiritual marketing adalah tingkatan pemasaran langit, karena ia mengandung nilai-nilai ibadah yang termanifestasi dalam pemasaran dan bisnisnya, sesuai dengan refleksi ikrar seorang muslim “ inna sholati, wa nusuki, wa mahyaya, wa mamati lil Lahi Rabbil alamin” (sesungguhnya shalatku, persembahanku, hidupku dan matiku, hanyalah untuk Alloh Penguasaha Alam Semesta).

    Marketing kedepan akan lebih berorientasi nilai spiritualitas, tidak lagi berpijak kepada keuntungan sepihak tetapi lebih mengakar kepada kemampuan memberikan kebaikan yang lebih kepada lingkungan, demikian para ahli berbicara.

    Bank syariah didirikan adalah bukan semata mencari keuntungan (capital gain) semata tetapi ada misi transcendental (ukhrawi) yaitu menyelamatkan aktivitas bisnis umat dari jeratan ribawi dengan memberikan solusi dalam bentuk bisnis yang syar’ie.

    Bank syariah menanamkan  semangat spiritualitas dalam bertransaksi perbankan, sistemnya bersendi syariah,  para stakeholder memberikan potret yang sesuai dengan komitmen kesyari’ahannya yang dibingkai oleh harapan para shareholder yang juga memiliki cita-cita yang sama yaitu menjadikan bank dan aktivitas bisnisnya sebagai bagian dari misi transcendental diatas.

    Banyak bank-bank syariah mencoba membuat habit spiritual based, (kebiasaan yang Islami), seperti shalat berjamaah tepat waktu, konsep “ senyum sapa salam “, program social dan santunan , relasi ukhuwah dengan semua mitra, dll, atau kata-kata pengingat yang islami seperti kalimat sudahkan anda shalat?, dll. Semua kebiasaan tersebut dilakukan secara konsisten, tanpa kecuali.

    Habit spiritual based merupakan salah satu bagian dari upaya memberikan potret sebenarnya tentang lingkungan transaksi syariah.Habit spiritual based pada akhirnya akan berintegrasi dengan harapan komunitas masyarakat.

    Masyarakat banyak yang sangat berharap dapat berinteraksi, bertransaksi dan dapat berbisnis sesuai syariah.Walaupun rentang pemahaman masyarakat masih jauh dari ke-idealan, sehingga membuka peluang mispersepsi, miskomunikasi dan misinterpretasi, tetapi secara keseluruhan mereka relative terbuka untuk diedukasi dan diarahkan kepada transaksi syariah sebenarnya.

    Banyak sebenarnya pelaku ekonomi syariah yang bersungguh-sungguh mengimplementasikan nilai-nilai syariah dalam transaksi bisnisnya.Pribadi sekaligus panutan berbisnis, yaitu Rasulullah saw, dikaji dari berbagai perspektif, bukan saja oleh para ahli dan ilmuwan Islam tetapi juga para ahli manajemen non muslim.Banyak hasil kajian tentang bisnis Rasulullah yang dijadikan panduan sekaligus pedoman bagi para pelaku ekonomi dunia.

    Pelaku ekonomi syariah sedari awal sangat menyadari bahwa mereka sedang bertransaksi dengan Alloh karena masuk dalam lingkaran bisnis dengan membawa nilai-nilai transcendental, yaitu agama,  tetapi mereka dapat merasakan kebahagiaan karena aktivitas tersebut.

    Mereka bukan sekedar berbisnis mencari laba tetapi langsung atau tidak langsung, disadari atau tidak, mereka juga sedang mendakwahkan tentang agamanya, sehingga mereka dipandang sebagai mujahid dakwah dalam bidang ekonomi.

    Mereka percaya bahwa berbisnis berbasis syariah dijamin untung sebagaimana firman Allah dalam Al Quran.mereka yakin bahwa norma dan aturan bisnis syariah akan membawa kesuksesan bagi orang yang menjalankannya. Mereka percaya bahwa dengan melaksanakan kebiasaan islami akan mudah menjemput keberkahan, keberuntungan, dan keuntungan sesuai dengan  yang ditargetkan.

    Tetapi mereka juga percaya dan yakin bahwa semua itu butuh kesungguhan, komitmen, dan konsistensi.

    Semua para pihak, baik shareholder maupun stakeholder adalah elemen yang dapat menguatkan kesungguhan, dan komitmen diatas.Sebaliknya, para pihak dapat juga turut berkontribusi terhadap ketidakberhasilan lembaga ekonomi syariah menjadi tidak syariah.

    Wal Lahu A’lam

    «
    »